RSS

The Power Of Memaafkan

Masaul Khair Readers, semoga Rahmat Allah senantiasa tercurah kepada kita semua. Setelah hampir setahun vakum, aku muncul lagi ni dengan semangat baru (semoga). Kali ini aku akan menulis tentang kekuatan memaafkan. Semua ini berdasarkan pengalaman pribadi, tapi sebelumnya aku mau bercerita.
Cerita ini bermula ketika aku masih semester 6, sekitar dua tahun yang lalu. Hari itu aku izin tidak mengajar selama seminggu tapi kuliah tetap jalan (aku kuliah sambil ngajar). Saat itu aku merasa seluruh tubuh terasa sakit, badan terasa sangat lelah, rasa kantuk terus menerus dan masuk angin setiap hari.



Akupun berobat pada seorang terapis yang kebetulan bapak temankudan rumahnya tidak jauh dari kost. Saat menjalani terapi beliau terus menasehatiku
"Belajarlah memaafkan" ujarnya di antara nasehat-nasehatnya. Sambil meringis, hatiku terus bertanya-tanya. dari mana beliau tahu bahwa aku sedang menyimpan dendam. "Lihatlah seluruh organ tubuhmu berteriak, kamu masih muda tetapi sudah seperti orang tua. kamu memang pandai mengontrol emosi, tapi tidak ada salahnya sesekali menangis menumpahkan kepedihan hati." ucap lagi.

Beliau pun meminta aku kembali keesokan harinya, karena kelelahan yang aku rasakan sudah bertumpuk-tumpuk. sebenarnya bukan kelelahan fisik melainkan kelelahan psikis. Maka aku habiskan waktu untuk beristirahat, tapi hal itu malah membuat sinis teman se-kost.

Ketika di kost aku sering teringat kalimat, "Belajarlah memaafkan" yang mengingatkankuperistiwa tahun 2011 silam. Tahun itu adalah tahun kelam sepanjang hidupku, karena saat itu aku dihadapkan pada masalah yang mungkin hanya pada hati kupercayakan. Tapi jujur, semakin kupendam kian sering aku mengingatnya dan semakin terkoyak luka di hatiku.

Bagaimana tidak, aku malah bermasalah dengan seseorang yang memang bukan tandinganku. Maka ketika amarah sudah tak dapat lagi kuredam dan dendam sudah terlanjur tertancap di hati yang paling dalam. kuputuskan untuk pergi hanya berbekal keyakinan, dan takdir pun mendamparkanku di Kota Hujan. tempat di mana kurekatkan bongkahan mimpi yang sempat hancur karena masalah tadi.
waktu terus berlalu, hingga hitungan tahun. kupikir waktu sudah membujuk hatiku untuk memaafkan tetapi seketika benteng hatiku runtuh ketika aku menjadi penulis di salah satu majalah islam yang ternyata orang itu juga menjadi pembaca majalah itu.

Kau tau kenapa? karena ia selalu mencaci tulisanku, mengatakan aku mengada-ada, menulis sesuatu bukan berdasarkan fakta. padahal tulisan itu sepenuhnya fakta yang kudapatkan dari hasil wawancara pada narasumber yang kuangkat. pertama kali mendengar hal itu aku bisa menerima, tapi setiap kali majalah itu terbit tulisanku tidak pernah benar di matanya. Maka amarahku mulai bergejolak, dan aku semakin membencinya. karena dia tidak tahu menahu dunia jurnalistik tapi asal bicara. dan aku mulai menyadari satu hal, ketika orang membenci kita maka semua hal tentang kita pun akan dimusuhi olehnya.

Makiannya itu pun semakin membuat minat menulisku layu, hingga aku tak pernah lagi mengirim tulisan dan sekarang sudah tidak termasuk redaksi di majalah itu. aku dikalahkan oleh makian orang itu dan kini aku mencoba bangkit walau tertatih dan aku akan belajar memaafkan. sekarang aku sudah tidak sering sakit seperti dulu. karena aku tahu memaafkan adalah penawar luka yang paling ampuh. karena Allah mencintai hamba-Nya yang senantiasa memaafkan.

Semoga orang itu juga mulai memaafkan saya

Salam Damai ^_^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah sudi berkunjung ke blog sederhana ini ^^